Setiap berkendara motor, banyak hal yang ada di pikiran ku. Tidak hanya melihat jalanan yang penuh lubang itu, aku pun memikirkan ini dan itu. Entah jam berapa saat ini, akan kah sampai tepat waktu? apakah terlambat lagi. Sore tadi, aku baru saja pulang kerja dan melihat anak lelaki sepulang dari berlatih paskibra, bukan paskibra biasa ia paskibraka. Seorang pengibar bendera pusaka di kota ku, yang konon mengibarkan bendara pusaka asli sebagai duplikat dari 3 bendera lainnya selain yang dijahit oleh ibu fatmawati. Kotaku salah satu yang memilikinya. Aku tahu, dari seragam itu, rambut yang terpangkas habis, kulit legam hitam terbakar matahari, terselip handuk kecil putih di celana belakangnya serta membawa alas bernama 'kursi goyang' itu. Ketika langit sore sedang memancarkan sinar terakhirnya, ia terduduk dikursi belakang motor bersama ibu yang menjemputnya. Membiarkan angin sore menerpa wajah lelahnya setelah bersusah payah berlatih hari itu. Entah apa yang ada dibenaknya. ...